Ini Adalah awal
dari semuanya, ketika hati adalah tersakiti, dan cinta adalah penghianatan.
Air mata adalah
satu-satunya yang berkata, ketika bibir bisu menjaga semua kesakitan dan
kesesakkan.
Mata yang
membantu mengukirkan puisi sakit hati, yang terjujur dari sebuah rasa kecewa.
Dan pipi adalah
saksi dari setiap linangan air mata yang datang dari hati yang tergores parah.
Untukmu kekasih
masa lalu...
Terima kasih
untuk rasa dan warna yang telah kau beri di dalam hidupku, mewarnai setiap
lembar-lembar cerita hidupku dengan warnamu yang berbeda. Memberikan rasa
disetiap gelas demi gelas kehidupanku, kau telah membuat sejarah untukku.
Setahuku, cinta
itu seharusnya membahagiakan, bukan menyesakkan.
Setahuku, cinta
itu melindungi, bukan membiarkan pergi.
Setahuku, cinta
itu tentang kejujuran, bukan kemunafikan.
Dan juga
setahuku, Cinta itu tentang kesetiaan, bukan penghianatan.
Tapi kau
berbeda.
Mungkin, untukmu
cinta adalah sesak.
Cinta adalah
kepergian, dan kemunafikan,
Serta sebuah
penghianatan.
Kau hanya
mengajarkan aku bahagia, kau lupa mengajarkan aku mengenai rasa sakit.
Kau hanya
mengajarkan aku mencinta, kau lupa mengajarkanku cara membenci.
Kau hanya
mengajarkanku memaafkan, kau lupa mengajarkanku mendendam.
Kau terlalu
manis, sehingga membuatku gula darah.
Terlalu tajam,
hingga menikam hatiku dalam-dalam.
Sangat menipu,
membuatku lupa bahwa aku sedang menghayal tinggi tentang cinta dan bahagia.
Kau pergi tanpa
membawa kenanganmu. Memaksaku hidup dan menjaga kenanganmu di sini, sendirian.
Kapan kau
kembali dan membawa pulang kenanganmu ini kembali? Aku capek menjaganya setiap
hari.
Aku muak, hingga
aku kini semakin sekarat didalam tumpukan kenangan yang lupa kau bawa pergi.
Cintamu penuh
tipu daya, Masa lalu.
Sangat menipu.
Dan aku tampak bodoh, lagi.
Sekali lagi aku
memohon kedatanganmu. Disini, sekarang!!!
Aku butuh
bantuanmu untuk membawa kenangan ini pergi jauh-jauh dariku.
Aku tidak
menanti sosokmu.
Aku hanya butuh
kenangan ini kau bawa pulang.
Itu saja.

