Setahuku,
matahari itu terang. Cahayanya entah dari mana. Dari api abadi kah? Dari gas?
Atau, dari emosi sang Khalik? Entahlah, Tuhan tak pernah memiliki emosi,
ataupun amarah kepada setiap hambanya; setahuku.
Setahuku
juga, Matahari tidak pernah telat untuk hadir dan memberikan cahayanya untuk
bumi dan tata surya lain, dan menurutku dia adil. Dia adil dalam membagikan
cahayanya. Cahayanya tidak hanya untuk makhluk bumi. Tapi mungkin untuk makhluk
lain, di dimesnsi lain, di galaxy lain? Siapa yang tau? Tapi yang aku tahu, tak
ada satupun tempat di bumi yang tidak di sinari oleh matahari. Itu setauku.
Setauku saja.
Itu
hanya setahuku. Seingatku. Sepengetahuanku, sesuai dengan apa yang aku tahu
tanpa niat sok tahu sedikitpun.
Setahuku
Matahari itu membantu tanaman untuk berfotosintesis. Alamiah, simbiosi Mutualisme,
Berkesinambungan.
Aku
tak jenius. Aku tidak cerdas. Tapi aku juga bukan seseorang bodoh atau bahkan
seorang berkebutuhan luar biasa; bukan.
Perkenalkan,
sebut saja aku bulan. Aku tidak seperti matahari yang besar. Aku bahkan
meminjam cahaya matahari untuk menyinari diriku sendiri. Aku hanya satelit
kecil, yang bahkan untuk orang awam aku terabaikan. Aku seperti seorang babu,
mengikuti rotasi bumi kemanapun ia berputar. Selalu mengikuti Bumi – si majikan.
Terkadang,
aku merasa terabaikan. Padahal dari seluruh tata surya, hanya aku yang bisa
berubah bentuk dari sabit hingga purnama.
Aku
hanya kenal bumi. Aku tidak berani meninggalkan bumi, dan berkenalan dengan
planet lain seperti Mars, Yupiter atau Merkurius. Aku takut tersesat di luasnya
tata surya, karena aku kecil.
Aku
terlalu cinta dengan bumi. Bumi bagiku sudah seperti Ibuku sendiri. Aku
mencintainya dan berharap tidak akan pisah darinya. Bumi memberiku kesempatan
untuk dikenang, dan aku membantu bumi memberikan keindahan. Sekali lagi,
simbiosis Mutualisme.
Aku
bertemu matahari mungkin antara satu setengah hingga lima tahun sekali. Dan
ketika aku bertemu dia, aku selalu bertanya bagaimana kabarnya, kemudian
menanyakan kabar mengenai tata surya. Sayang, waktuku bertemu dengan dia hanya
kurang dari satu jam saja.
Aku
bulan, dan aku kecil. Aku bulan dan belum
berani mandiri.
Aku
bulan, aku kecil. Aku Takut. Aku takut kalau-kalau Ibuku – bumi, sakit lagi.
Aku takut kalau ia tersiksa dengan manusia dan tumbuhan serta hewan-hewannya.
Aku khawatir jika tiba-tiba dia batuk dan menyemburkan lahar – isi perutnya,
keluar dan menyakiti semua di tubuhnya.
Aku
bulan dan aku kecil. Aku tidak bisa memeluk Bumi ketika ia menangis, atau
bahkan memberikan sapu tanganpun, aku tak bisa. Aku –Malang.
Seharusnya,
dulu Tuhan menciptakanku dengan ukuran yang lebih besar dan lebih dekat dengan
bumi supaya aku bisa memeluk Ibuku itu lebih erat ketika ia sedih. Tapi memeng
Tuhan itu adil dan bijaksana.
Tuhan
menciptakan aku jauh dari Bumi, supaya aku tidak menabraknya, tidak
mencelakainya. Tuhan menugaskan aku untuk mengelilingi ibuku sendiri sesuai
rotasinya, agar aku tahu bagaimana menghargai orang yang lebih Tua daripada
aku. Aku, bumi dan matahari dipertemukan sekali-sekali, untuk setidaknya
mengajarkan aku tentang pertemuan dan perpisahan.
Aku
bangga menjadi kecil di atas langit yang luasnya bisa berjuta-juta persegi.
Tidak semua benda dan planet di tata surya bisa seberuntung aku. Aku kecil, dan
aku bangga. Aku mencintai bumi, dan aku percaya Bumi pun demikian.




