RSS

Jarak, Cita dan Cinta.

Sayapku patah.. patah untuk yang kesekian kali dengan tema yang sama, penghianatan. Mungkin terlalu dramatis, tapi itulah kenyataannya, di khianati oleh orang yang sama, berkali-kali, hahaha, bodoh!
Sudah berapa kali hal ini terjadi? Entahlah, tak terhitung. Sudah berkali-kali pula aku berusaha keluar dari kurungan cinta yang menyesakkan ini, mencoba mencari jalan alternatif, tapi ternyata jalan alternatif yang kucaripun  juga ternyata buntu, menyesakkan...
Mungkin cintaku sudah buta, atau lebih tepatnya katarak? Entahlah, cintaku sudah benar-benar tertutupi emosi yang entah nama yunaninya apa, cintaku memang bodoh. Merelakan matanya sembab, menangisi seseorang yang mungkin mengingatku pun tidak.
Inilah kenyataan yang sudah memang harus ku hadapi. Berusaha menanjakki puncak gunung demi memenuhi keinginan seseorang yang menungguku dengan santai dibawah kaki gunung. aku merelakan kakiku merasakan sakit sendirian, tanpa peduli apakan dia yang menunggu di bawah, mempertanyakan kondisiku?
Cita dan Cinta. Dua hal yang terpisah oleh restu jiwa masing-masing. Cita memiliki banyak keegoisan dibandingkan Cinta. Cinta terlalu lemah bila disandingkan dengan Cita. Kasus ini sudah tidak asing lagi. ketika harus mencintai sendirian, Memegang pendirian cinta masing-masing, dan seorang yang berjuang mempertahankan cinta sendirian.
Konyol memang. Apalagi ketika seseorang merelakan seperempat waktu malamnya habis hanya untuk memikirkan dan mendoakan kekasihnya yang jauh, yang belum tentu melakukan hal yang sama dengan apa yang di perbuatnya..
Ini memang sudah takdir-Nya. Memisahkan kita. Dua jiwa yang DULU sempat di persatukan, dan kemudian di pisahkan oleh Jarak karena Citamu dan Cintaku.
Kau melanjutkan sekolahmu di Bandung, dan aku disini memendam rindu selama berbulan-bulan, sendirian, memilukan...
Aku sendiri disini. Sedangkan kamu, mungkin sedang bersama kawan-kawanmu yang entah siapa. Aku menggenggam hapeku, menunggu kabar darimu, sedangkan kamu mungkin menyimpan jauh-jauh hapemu, agar aku tak mengganggu aktifitasmu setiap malam. Aku bersujud, membisikkan namamu kepada sang pencipta, sedangkan kamu mungkin sedang melakukan party konyol dengan orang-orang yang tak aku kenal sama sekali.
Iyah,ini takdir kita. Dipisahkan oleh jarak dengan seizin sang pencipta. Tapi apa harus aku melakukan semua itu setiap malam? Menyendiri, menggenggam hape, bersujud?
Segalanya serasa sunyi tanpa kamu, pria dengan tinggi diatas rata-rata, yang dulu adalah kakak kelasku di jurusan komputer, yang kini melanjutkan sekolahnya di Bandung, demi mengejar cita-citanya sebagai seorang Psikolog.
Kamu apa kabar? Tolong, jangan buat saya disini menangis sendirian, jangan buat saya terus menggenggam hape dan berharap namamu terukir indah tepat di screen hape, atau bahkan harus bersujud, meneriakkan namamu lirih kepada sang maha Besar... Karena sesungguhnya aku capek. Capek melakukan semuanya, karena itu, mungkin saja kau tidak demikian melakukan hal yang sama denganku.
Tolong, Teruntuk kamu yang sekarang entah bersama siapa,, Tolong, lihat kotak pesanmu, balas secarik kecil pesan dariku, dan membalasnya dengan sebuah bahasa yang menggetarkan hatiku, lagi. seperti satu tahun lalu, ketika kau masih disini, di kota ini, sebelum kau meninggalkan aku sendirian..
Karena aku disini sedang benar-benar merindukanmu.. Tolong sekali ini saja, balas rasa sesakku, balas rasa rinduku, aku berharap kaupeka dengan perasaanku ini.
Tertanda Kekasih Jauhmu yang entah masih kau sayangi atau tidak.


Tulisan ini khusus untuk Suci Ramadhani, :3 Hutang puisi gue lunas yah. :D

0 komentar:

Posting Komentar