“Aku
minta putus.” Kevin memecahkan keheningan.
“Hahaha..
Kevin, sayang. Becanda terus. Udah deh.” Balas Irene, santai.
“Aku
serius.”
“Aku
juga serius. Becandaan kamu ga lucu, tau?” Irene masih tetap tersenyum.
“Aku
sudah pacaran sama Dea, seminggu.” Angkat Kevin, lagi.
“Kevin?
Ini kamu kan? Kevin Mahendra?” Tanya Irene memastikan.
“Iyah.”
“Lalu?”
“Aku
lebih sayang dia, dibandingkan kamu.”
“Lalu?”
“Aku
mau kita putus”
“Iyah,
Lalu?”
“Dia
lebih bisa menerima, dan menghargai aku daripada kamu.”
“Terus?”
“Aku
lebih nyaman dengan dia.”
“Ohhh.
Yah, lalu?”
“AKU
SERIUS, IRENE!!!” Kevin berdiri, memukul meja, dan menatap tajam ke arah Irene.
“Lalu?”
Irene mencoba tetap terlihat tenang.
Kevin
terdiam dan kembali duduk ke tempatnya semula. Mereka tak saling bercakap untuk
beberapa waktu. Irene terlihat tegar, matanya tidak mengeluarkan setetes air
mata, bahkan ia terlihat seperti bahagia, senyumnya mengembang di sudut
bibirnya, dan berkata:
“Aku
senang. Senang kalau kamu menemukan orang yang lebih baik dari aku. Yang bisa
lebih menerima, dan menghargai kamu dibandingkan aku, dan yang bisa lebih sabar
menghadapi kamu daripada aku. Iyah, aku pemarah, aku cemburuan, aku
overprotective, aku terlalu manja, aku ga pernah buat kamu nyaman. Aku egois dan tidak seperti Dea yang mungkin sempurna bagi kamu.
Selamat buat hubungan kamu sama Dea. Maaf, aku ga bisa jadi yang terbaik buat
kamu selama satu tahun ini jalanin hubungan sama kamu. Atau, mungkin malah aku
yang salah milih kamu buat masuk ke dalam kehidupan aku.. Semoga kalian rukun
terus yah. Selamat, Kevin Mahendra. Selamat.” Ucap Irene panjang lebar, dan
kemudian meninggalkan tempat itu, bersama perasaan Kevin yang terpukul atas
reaksi Irene yang seperti “Tidak peduli”. Langkah kaki Irene mulai menjauh dari
posisi Kevin, dan setiap langkah kakinya menapak, sebanyak itu pula air matanya
berbicara.
***
Lima tahun berselang setelah kejadian itu, Irene telah menjalin hubungan baru dengan seorang Pria bernama Bayu Dwi Permana, dan telah berumah tangga bersamanya.
Sedangkan Kevin??
Iyah, Kevin masih dengan penyesalannya meninggalkan Irene demi Dea yang ternyata tidak lebih baik dari pada Irene.
----
Well, terkadang orang yang lo anggap baik belum tentu baik. Dan orang yang lo anggap buruk belum tentu buruk. Ketika kita tau bahwa penyesalan itu selalu datang diakhir, kenapa tidak kita ciptakan suatu moment yang terbaik, yang paling baik dari segala yang terbaik dengan apa yang telah kita punya(?) Penyesalan memang selalu datang belakangan~ Dan sudah begitu hukum Alam yang berlaku. Soooooo, bersyukurlah atas segala hal yang lo punya saat ini. Bekerja dengan sungguh-sungguh, dengan totalitas yang lo punya, sehingga jika pada akhirnya tidak sesuai dengan yang kita harapkan, penyesalan itu tidak terlalu menampar hatimu. Karena diakhiri dengan "usaha yang terbaik"
Salam.


0 komentar:
Posting Komentar